Waktu Makan dan Jenis Makanan mana yang Lebih Penting?

April 10, 2019
Waktu Makan dan Jenis Makanan Mana yang lebih Penting?

Jika kamu sedang menjalankan diet atau sedang mempertahankan berat badan sekarang mungkin kamu harus mempertimbangkan waktu makanmu juga.

Sebagian besar dari kita pasti sudah sadar, apa yang kita makan dapat mempengaruhi berat badan. Namun, bagaimana dengan waktu makan?

Laman Cleveland Clinic  mengutip penjelasan dari seorang pelatih kesehatan Michael Roizen.

Roizen menyebut, saat ini kita mulai perlu memperhatikan jam makan. "Ketika kita makan larut malam, maka akan menjadi gemuk," kata Roizen.


"Aktivitas tersebut menambah ukuran pinggang, risiko peradangan dan diabetes tipe 2."

"Studi pun menunjukkan, orang bertambah berat badan, saat mereka makan kalori di malam hari."

Ada alasan di balik pengaruh jam makan dengan risiko-risiko tersebut.

Menurut Roizen, tubuh menjadi lebih resisten insulin sepanjang hari. Artinya, gula tetap berada dalam aliran darah dan diubah menjadi lemak.

Oleh karena itu, Roizen menyarankan, selalu menghindari makan saat malam hari.

Bahkan, Roizen merekomendasikan untuk mengonsumsi 75 persen kalori harian kita sebelum jam 14.00.

Formasinya adalah sarapan dan makan siang sebagai makanan terbesar kita, dan makan malam yang terkecil.

Roizen meyakinkan, jika kebiasaan ini konsisten dilakukan setiap hari, maka hal itu akan menjadi kebiasaan.


Kiat untuk membuat perubahan berhasil

Mendapatkan banyak protein dan lemak sehat di pagi hari, dan saat makan siang akan menangkal kelaparan.

Roizen menambahkan, berpikiran terbuka tentang apa yang kita makan dapat membantu transisi tersebut.

"Hentikan stereotip tentang makanan," kata dia.

"Saya makan burger salmon untuk sarapan atau roti panggang alpukat, dan oatmeal untuk makan malam."

Roizen menyarankan untuk makan dalam waktu 12 jam atau kurang, selama tiga hari, setelah itu akan mulai terbiasa.

Jika sedikit terlewat, Roizen memastikan bahwa kita akan segera kembali terbiasa.

Selain itu, menurut Roizen, masih ada manfaat kesehatan dengan mengadopsi makan siang lima dari tujuh hari per minggu.

7 Tips Agar Hidup Lebih Bahagia

April 04, 2019
7 Tips Agar Hidup Lebih Bahagia

Kebahagian adalah hal utama yang ingin di capai oleh setiap individu dengan banyak cara, Hal sederhana yang utama adalah bersyukur dengan apa yang selama ini kita raih mungkin saja banyak orang di luar sana yang tidak dapat mencapai titik berdiri kita sekarang.

Secara sadar maupun tidak, banyak dari kita yang sering mengeluh. Mulai dari hal terkecil seperti kemacetan, rekan-rekan kerja yang tidak maksimal dalam bekerja, kesalahan yang dilakukan anggota keluarga, dan lainnya.

Psikolog Susan Albers, PsyD mengatakan bahwa mengeluh sebetulnya seperti virus. Tidak ada yang senang berdekatan dengan orang yang gemar mengeluh.

"Penting untuk menjauhkan diri dari orang yang suka mengeluh," kata Dr. Albers seperti dilansir dari Cleveland Clinic.


Namun, menghentikan kebiasaan mengeluh tidaklah mudah. Banyak dari kita yang lahir dengan bias negatif.

"Banyak dari kita yang cenderung fokus pada hal-hal yang tidak benar dan negatif daripada memperhatikan hal-hal yang benar di sekitar kita," ujarnya.

Bagaimana denganmu, apakah mengeluh sudah menjadi kebiasaanmu? Nah, sda beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi kebiasaan mengeluh tersebut:

1. Cobalah lihat hal yang kamu keluhkan dengan perspektif luas. Apakah hal tersebut akan berpengaruh terhadap lima menit, lima bulan, atau lima tahun kehidupanmu? Cukuo besarkah hal itu untuk dikeluhkan?

2. Lihatlah lebih dalam. Apa masalah yang membuatmu mengeluh? Apakah hal itu tentang isu besar dalam hidupmu? Kamu bisa meluangkan waktu sekitar lima menit untuk mendalami keluhanmu. Nantinya kamu mungkin akan menyadari apa yang membuatmu kesal dan mengeluh itu sebenarnya tak seberapa.

3. Buatlah ini menjadi semacam permainan. Kamu bisa menggunakan benda seperti gelang karet. Setiap kali kamu menyadari dirimu mengeluh, pindahkan gelang tersebut ke sisi lain.

"Targetnya adalah 30 hari dengan gelang karet tersebut di tangan yang sama," kata Psikolog Scott Bea, PsyD.

4. Pilihlah saluran yang tepat. Bijaklah dalam memilih siapa orang yang akan kamu bagikan informasi atau keluhan. Misalnya, teman atau keluarga lewat email atau telepon. Jangan pernah mengeluh di media sosial.


5. Pastikan tujuan keluhanmu jelas sehingga kamu bisa mencari solusinya.
"Kunci dari berbagi keluhan adalah agar komplain tersebut bermanfaat dan tidak sekedar mengkiritik," kata Dr. Albers.

6. Temukan sisi positif dari keluhanmu. Jika kamu mulai mengeluh, akhiri dengan hal yang positif. Sebab jika tidak, orang-orang akan melupakan pesan dari keluhanmu sepenuhnya.

7. Mulailah bersyukur. Ingatlah setiap hari tentang hal-hal yang membuatmu bersyukur, tak peduli sekecil apapun itu.

"Jika hal negatif sudah menjadi kebiasaan, menjaga diri untuk terus bersyukur bisa mulai mengubahmu menjadi pribadi yang lebih baik dan positif," kata Dr. Bea.

"Membiasakan diri bersyukur juga akan membuat kita mebjadi pribadi yang gemar bersyukur dalam hidup."

Mengubah perspektif, termasuk dalam hal mengeluh, membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak sebentar.

Hal ini membutuhkan ketekunan untuk belajar melepaskan hal-hal kecil.

Dengan usaha lebih, kita bisa mengalihkan perhatian tersebut untuk hal-hal yang lebih baik di sekitar kita. Dan, kita juga nantinya akan merasakan kebahagiaan muncul ke dalam hari-hari kita.

Hal-Hal yang Berkaitan dengan Luka Bakar

April 01, 2019
Hal-Hal yang Berkaitan dengan Luka Bakar

Terjadinya luka bakar, bisa saja terjadi kepada siapa saja baik anak-anak maupun orang dewasa. Apalagi Anda yang kesehariannya melakukan aktivitas yang berhubungan dengan api dan sumber panas lainnya, seperti tukang las, petugas listrik, pekerja pabrik, hingga sebagai koki sekalipun. Luka bakar juga terjadi bukan faktor kesengajaan, melain keteledoran saat melakukan pekerjaan. Penyembuhan luka bakar ini cukup sulit, apalagi dilakukan tanpa adanya penanganan yang serius dari pihak dokter. Biasanya juga proses penyembuhan luka bakar ini memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga memerlukan kesabaran bagi si penderitanya. Luka bakar yang sudah sembuh, kemudian terjadi lagi luka yang persis, maka kemungkinan besar luka lama sembuh tidak secepat yang pertama.

Untuk bisa menangani luka bakar dengan cara yang tepat, sebaiknya Anda mengetahui beberapa hal ini dulu:

1. Penyebab luka

Anda harus cari tahu dulu, apa penyebab luka bakar tersebut. Apa mungkin karena beberapa penyebab berikut ini?
  • Kimia, misalkan karena tertumpah air aki (zuur) atau soda api
  • Radiasi, misalkan karena terpapar sinar matahari (UV) atau bahan radio aktif
  • Panas (suhu lebih dari 60°C), misalkan karena  uap panas, api, atau benda panas lainnya
  • Listrik, misalkan karena tersengat aliran listrik atau petir
2. Golongan luka bakar

Penting juga mengetahui tingkat kedalaman luka bakar, sehingga bisa lebih tepat dalam melakukan penanganannya. Ada 3 golongan luka bakar, di antaranya adalah:
  • Luka bakar superfisial (tingkat satu)
Golongan pertama ini meliputi kulit lapisan atas saja yang terbakar. Kondisi yang ditimbulkan, yaitu warna luka kemerah-merahan, nyeri, dan kadang juga bengkak.
  • Luka bakar tingkat dua (lebih dalam dari yang pertama)
Bukan saja lapisan epidermis kulit yang terbakar, tetapi merusak juga lapisan bawah kulit. Jenis luka bakar golongan kedua ini paling sakit. Kondisi yang ditimbulkan dengan luka tingkat dua ini adalah munculnya gelembung-gelembung nanah, bengkak, warna luka kemerahan, kulit lembab, dan lapisan teratas kulit rusak.
  • Luka bakar tingkat tiga
Untuk luka bakar tingkat ini, cukup serius bahkan tidak hanya merusak lapisan kulit, melainkan sampai pada tulang dan organ dalam. Kondisi yang ditimbulkannya sudah pasti sangat parah.

Itulah beberapa hal terkait luka bakar yang umum terjadi. Untuk cara merawat luka bakar, Anda bisa simak di artikel kami yang lain.