Telah Diteliti Selama 1 Abad Binatang Purba Ini Sangat Membingungkan

Januari 06, 2018


Sekitar seabad lalu, ilmuwan menemukan makhluk laut mungil berukuran sekitar 2 sentimeter di pegunungan Rocky, Kanada. Asal usul makhluk yang disebut Habelia optata ini sempat membingungkan peneliti.

Pasalnya, para peneliti tidak bisa menentukan dengan jelas makhluk ini termasuk keluarga evolusi yang mana karena penampakannya yang mengerikan.

Kini, ahli paleontologi dari Universitas Toronto dan Museum Royal Ontario, Toronto, berhasil mengungkapkan identitasnya.

Diterbitkan dalam jurnal BMC Evolutionary Biology, penelitian ini mengungkapkan bahwa Habelia hidup selama pertengahan periode Kambrium, sekitar 508 juta tahun yang lalu. Periode Kambrium merupakan masa saat banyak nenek moyang hewan muncul untuk pertama kalinya.

Meski demikian, karakteristik Habelia sudah mirip dengan hewan modern. Tubuhnya tersegmentasi mirip seperti lobster atau serangga.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr C├ędric Aria, seorang ahli paleontologi dari Universitas Toronto, ini juga menemukan bahwa Habelia berkaitan dengan nenek moyang chelicerate, kelompok yang mencakup kalajengking dan laba-laba.

"Habelia ini menjelaskan asal karakteristik tubuh yang dimiliki chelicerate," ujar Aria dilansir dari Independent, Kamis (21/12/2017).

Salah satu bentuk tubuh yang mengarahkan Habelia pada chelicerate adalah bentuk mulutnya yang mirip.

Nama chelicerate sendiri diambil dari chelicerae, istilah untuk menggambarkan sepasang penjepit yang berada di mulut arthropoda (kalajengking) dan arakhnida (laba-laba) untuk membabat mangsanya.

Selain itu, makhluk-makhluk ini juga memiliki semacam senjata di kepala dan kaki yang baik untuk berjalan. Para ilmuwan yakin bahwa di masanya, makhluk ini adalah pemburu dasar laut yang efektif.

Meski tubuhnya hanya sepanjang dua sentimeter, tetapi peneliti menduga Habelia dapat melawan hewan seperti trilobata (hewan prasejarah yang memiliki kulit keras, red) dengan rahang mereka yang menakutkan.

"Alat pelengkap (di tubuh) dan rahang yang kompleks membuat Habelia menjadi pemangsa yang sangat dahsyat, meskipun berukuran kecil. Kedua senjata itu sangat efektif untuk merobek mangsa," kata Aria.

Tahukah Kamu Ada 2 Supermoon Pada Awal Tahun Kemarin

Januari 06, 2018


Januari 2018 rupanya menjadi bulan yang sangat spesial dalam fenomena tata surya kita. Bagaimana tidak, ada dua supermoon yang dapat disaksikan dengan mata telanjang di bulan ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, NASA (National Aeronautics and Space Administration) mengumumkan fenomena "trilogi supermoon".

Ketiganya adalah supermoon terjadi pada 3 Desember 2017 lalu, kemudian yang kedua akan muncul 1 Januari 2018 malam hingga 2 Januari dini hari, dan terakhir akan muncul pada 31 Januari 2018.

Supermoon pada 1 Januari 2017 disebut sebagai Supermoon 'Serigala', puncaknya pukul 20.51 WIB dan seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikannya.

Sementara Supermoon yang akan menjadi penutup di Januari disebut Supermoon Biru. Meski namanya supermoon biru, tapi bulan akhir bulan ini tidak berwarna biru.

Nama bulan biru mengacu pada bulan purnama kedua dalam sebulan. Bulan purnama kedua nanti akan sangat istimewa, karena bertepatan dengan gerhana bulan total, di mana posisi bumi tepat berada antara matahari dan bulan. Warnanya nanti akan menyerupai warna merah darah.

Fenomena ini memang jarang terjadi. Biasanya, fenomena bulan penuh atau supermoon hanya terjadi satu kali dalam sebulan. Tapi tidak untuk Januari dan Maret 2018. Keduanya memiliki bulan biru.

Dilansir dari Inverse, Minggu (31/12/2017), hal ini karena adanya perbedaan antara kalender matahari selama 365 hari yang selama ini kita ikuti dan kalender lunar yang diikuti oleh banyak budaya. Satu putaran kalender lunar sama dengan 12 putaran revolusi Bulan (29,5 hari). Sehingga satu tahun lunar sama dengan 354 hari lebih 10 jam 49 menit.

Untuk menyelaraskan keduanya, para astronom menggunakan sesuatu yang disebut 'siklus Metonik', periode sekitar 19 tahun kalender atau 235 supermoon (setara 235 bulan lunar). Ini hampir merupakan kelipatan umum dari tahun matahari dan tahun bulan lunar yang selisih beberapa jam saja.

Dengan begitu, setiap 19 tahun kalender, bulan baru dan bulan purnama akan muncul pada tanggal yang berdekatan dalam setahun.

Kalender matahari dan kalender bulan tidak sinkron sempurna, karena ada 235 purnama selama 228 bulan kalender. Oleh karena itu, ada tujuh bulan dalam kurun waktu 19 tahun memiliki dua purnama di bulan yang sama.

Jika tahun ini fenomena dua supermoon ada di bulan Januari dan Maret, maka untuk selanjutnya fenomena serupa akan terjadi di tahun 2037.

Akankah Asteroid Besar Ini Hantam Bumi

Januari 01, 2018


Sebuah asteroid yang sebelumnya tak terlihat oleh para astronom akan meluncur ke bumi malam ini.

Batuan luar angkasa itu baru diidentifikasi pada hari Natal. Sebelumnya, asteroid ini bahkan tidak terlihat oleh para astronom.

Ini mungkin karena ukuran asteroid ini terbilang kecil. Batuan antariksa ini "hanya" memiliki diameter sekitar 7-15 meter saja.

Meski begitu, jika benda antariksa ini menabrak bumi, tentu dapat menyebabkan kerusakan.

Asteroid yang disebut dengan 2017 YZ4 ini sendiri akan melintasi orbit di antara bumi dan bulan. Tepatnya pada jarak sekitar 224.395 kilometer dari bumi.

Sebagai perbandingan, jarak bumi ke bulan sekitar 383.000 kilometer. Dengan kata lain, benda luar angkasa ini cukup dekat dengan bumi nanti malam.

"Ini adalah asteroid pertama yang diketahui terbang melintasi bumi dalam jarak satu bulan sejak dua asteroid semacam ini terbang melintasi kita hanya terpisah 35 menit pada 21 November 2017, dan asteroid ini adalah yang ke-52 tahun ini," ungkap seorang juru bicara NASA dikutip dari Express, Rabu (27/12/2017).

"Pada 24 Desember, ada 17.495 obyek Near-Earth (NEOs) yang ada di sekitar planet kita; 17.389 di antanya adalah asteroid. Tahun ini, kami menemukan 1.985 asteroid baru di dekat bumi," sambungnya.

2017 YZ4 sendiri diketahui berasal dari asteroid Apollo, yaitu sekelompok asteroid yang secara teratur melintasi bumi. Kelompok asteroid Apollo ini pertama kali ditemukan oleh astronom Jerman, Karl Reinmuth pada 1930-an.
Sedangkan 2017 YZ4 sendiri baru ditemukan pada 24 Desember 2017 oleh operator Mount Lemmon Survey Observatory, di Arizona.

NASA Siapkan Dua Misi Baru untuk Teliti Bulan Sebesar Saturnus

Januari 01, 2018


NASA terus kembangkan penelitiannya untuk mengungkap misteri luar angkasa. Dua misi terbarunya sudah siap meluncur.

2 dari 12 program misi terbaru milik NASA, The National Aeronautics and Space Administration, sudah disetujui oleh New Frontiers, program yang mendukung misi sains planet tingkat menengah.

Kedua misi tersebut adalah peluncuran robot yang mirip Quadcopter ke permukaan Titan, salah satu bulan di Saturnus. Robot ini akan mengambil sampel nukleus atau inti sel dari sebuah komet.

Misi pertama dinamai Dragonfly (capung). Misi ini akan mengirim robot quadcopter terbang ke Titan dengan perlangkapan canggih untuk mengidentifikasi molekul organik besar. Quadcopter ini nantinya dapat terbang ke beberapa lokasi sejauh ratusan mil untuk mempelajari lanskap di Titan.

Misi kedua adalah CESAR (The Comet Astrobiology Exploration SAmple Return). Misi ini akan memutari kembali komet 67P / Churyumov-Gerasimenko, yang pernah dikunjungi oleh pesawat ruang angkasa Rosetta European Space Agency dari tahun 2014 sampai 2016.

Untuk misi Dragonfly, peneliti ingin menggali apakah Titan layak dihuni atau tidak. Titan merupakan bulan yang besar dan memiliki suhu dingin, juga memiliki atmosfer dan danau serta metana yang tebal. Ilmuwan juga percaya ada samudra yang berair bawah kerak bekunya.

"Ini adalah lingkungan yang kita tahu memiliki bahan untuk kehidupan," kata Elizabeth Turtle, seorang peneliti di Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins, dilansir dari Science Alert, Kamis (21/12/2017) .

Dengan Dragonfly, peneliti berharap bisa mengevaluasi seberapa jauh kehidupan probiotik bisa berkembang.

Sementara itu, misi Cesar akan melakukan eksplorasi lebih lama. Rencananya, misi Cesar akan kembali ke bumi pada November 2038, silahkan catat di kalender Anda.

Cesar akan mengambil sampel dari permukaan komet lalu kembali ke Bumi. Sebetulnya, misi mempelajari sampel di komet pernah dilakukan NASA pada misi Stardust. Namun, misi Cesar adalah misi pertama yang membawa sampel tersebut ke Bumi.

"Komet adalah salah satu objek yang paling penting secara ilmiah di tata surya, tapi juga paling sulit dipahami," kata peneliti Cornell University, Steve Squyres yang juga menjadi ketua penyelidik misi tersebut.

Para peneliti percaya bahwa komet mengirimkan air dan molekul organik ke awal pembentukan Bumi dan berpotensi berkontribusi pada asal usul kehidupan.

Sampel permukaan dari 67P / Churyumov-Gerasimenko akan mencakup molekul "volatil" berharga yang mudah berubah menjadi gas namun penting untuk memahami asal usul sejarah Bumi dan seisinya.

Pemilihan kedua konsep tersebut diumumkan dalam sebuah konferensi pers hari Rabu (20/12/2017). Perkembangan terbaru, saat ini misi sedang dalam tahap studi konsep. Para ilmuwan yang terlibat dapat mengembangkan proposal mereka lebih lanjut.

Seleksi terakhir akan dilakukan pada bulan Juli 2019 dan wahana ruang angkasa yang terpilih akan diluncurkan sekitar tahun 2025.

Masih terdapat proposal misi baru di program New Frontiers. Diantaranya, misi untuk mempelajari Saturnus, Venus, asteroid di sekitar Jupiter, atau menyelidiki bulan Saturnus lainnya seperti Enceladus.

Sementara itu, NASA memiliki tiga misi New Frontiers yang sudah dalam proses: New Horizons, yang terbang melewati Pluto pada tahun 2015; Juno yang mengorbit Jupiter; serta OSIRIS-REx, sebuah pesawat ruang angkasa yang menuju ke asteroid Bennu yang akan mengirim kembali sampel dari permukaan batu pada September 2023.

Supermoon "Serigala" Akan Tampak Pada Awal Tahun 2018, Saksikan!

Januari 01, 2018


Kejutan awal tahun, Supermoon "Serigala" akan muncul di malam Tahun Baru 2018.

Beberapa waktu lalu, NASA (National Aeronautics and Space Administration) mengumumkan fenomena "trilogi supermoon".

Ketiganya adalah supermoon terjadi pada 3 Desember 2017 lalu, kemudian yang kedua akan muncul 1 Januari 2018 dan terakhir akan muncul pada 31 Januari 2018 nanti.

Pada 1 Januari nanti akan terjadi bulan purnama dengan posisi orbit bulan di titik terdekat dengan Bumi, atau di titik orbit perigee.

Pada posisi ini bulan akan tampak lebih besar sekitar 14 persen dan lebih terang 30 persen dibandingkan bulan purnama biasa. Inilah fenomena Supermoon di tahun baru 2018.

Posisi orbit bulan terdekat dengan Bumi disebut perigee dan titik yang terjauh adalah apogee. Supermoon terjadi ketika bulan berada di titik perigee, setiap 13 bulan sekali.   

Salah satu mitos yang beredar saat Supermoon muncul akan sambutan lolongan serigala. Maka orang-orang menyebut Supermoon di awal tahun sebagai Wolf Moon atau Bulan Serigala.

Tidak butuh waktu lama setelah supermoon pertama itu, masyarakat akan dapat menyaksikan lagi fenomena Supermoon Biru diakhir bulan Januari, tepatnya tanggal 31.

Menurut peneliti, fenomena ini terjadi setiap dua setengah tahun sekali.

Bersamaan dengan Supermoon Biru, juga akan terjadi gerhana bulan total. Ini terjadi karena posisi bumi berada di antara Matahari dan bulan sehingga Bumi menghalangi cahaya Matahari ke bulan. Hal ini terjadi dua kali dalam setahun.

Masyarakat di Indonesia akan bisa menyaksikan gerhana tersebut pada pukul 17.51 WIB. Wilayah Indonesia bagian barat akan melewatkan tahap awal ini. Namun, saat puncak gerhana sekitar pukul 20.51 WIB, seluruh wilayah Indonesia bisa menyaksikannya.